Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Sedikit kaget ketika tadi pagi aku menerima SMS dari isteriku yang mengabarkan bahwa terjadi sebuah kecelakaan pesawat Garuda jurusan Jakarta (CGK) - Yogyakarta (JOG) ketika mendarat di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Mengingat beberapa kali aku menggunakan pesawat Garuda ke Yogyakarta ketika mudik pulang kampung menjadikan peristiwa kecelakaan tersebut sedikit menggoncang hatiku. Entah berapa kali aku menghirup udara disana, di tempat yang sama dimana sekian puluh saudara - saudara kita berjuang keluar menyelamatkan diri namun gagal. Andai aku salah seorang diantara mereka … atau andai itu adalah terjadi pada tanggal 18 bulan lalu pukul 15.45 ketika aku kembali ke Yogyakarta … Atau peristiwa itu terjadi Sabtu siang kemarin, ketika aku berangkat kembali ke Singapura…

Entah mengapa, akhir - akhir ini banyak sekali musibah dan bencana terjadi di Indonesia. Sebelum peristiwa kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta, kita telah diingatkan dengan adanya gempa bumi di Sumatera Barat yang getarannya juga sampai terasa oleh isteriku dan beberapa teman di Singapura. Ada juga musibah tanah longsor di Manggarai, Nusa Tenggara Timur dan banjir di Jakarta yang merenggut tidak sedikit korban. Ada juga musibah angin puting beliung (lesus) yang terjadi secara lokal di sekitar Lempuyangan Yogyakarta.

Untuk peristiwa yang terakhir, aku sendiri turut merasakan kepanikan dan kepasrahan yang terjadi selama hampir 15 menit. Sekitar hampir satu jam pesawat Garuda yang saya naiki turun di Yogyakarta, aku seperti “disambut” oleh angin puting beliung ini. Entah bagaimana caranya menenangkan diri dan isteri yang ada dalam dekapanku saat itu, asma Allah kusebut - sebut kuharapkan kami masih diberi keselamatan ketika kami mendengar bunyi genteng - genteng terhempas dan berjatuhan dan suara bergemuruh diluar rumah. Sebelum angin puting beliung itu sempat menyapa rumah kami, di sebelah barat dari arah jembatan layang Lempuyangan tampak banyak atap seng dan ranting - ranting berdaun yang beterbangan sambil barharap agar tidak menuju arah rumah kami. Alhamdulillah, kami selamat saat itu, meskipun lumayan banyak genteng yang harus diperbaiki dan harus bertahan tanpa lisrik selama enam hari.

Tak hanya bencana alam, seperti musibah Garuda tidak sedikit peristiwa kecelakaan transportasi lainnya yang menyebabkan korban jiwa seperti terbakar dan tenggelamnya kapal Levina I, kapal MV Senopati Nusantara dan yang menghebohkan dunia, hilangnya pesawat Adam Air jurusan Surabaya - Manado.

Sadar ataupun tidak, kematian akan menjemput kita, entah kapan. Namun yang pasti … kian mendekat. Allah SWT tengah mengingatkan kita secara bersama - sama melalui serangkaian peristiwa tersebut. Khususnya untuk musibah transportasi, agaknya adalah feedback input bagi bangsa kita untuk introspeksi, memperbaiki sistem dan penerapannya di lapangan.

Semoga rangkaian bencana dan musibah ini segera berakhir … Amin.

Popularity: 6% [?]