10 July 2005

Inikah yang namanya isyarat ?

Sepertinya setiap orang sepakat, ilmu akan lebih berarti jika kita mampu mengamalkannya. Tentu juga akan sepakat, mengamalkanpun perlu dengan cara yang benar. Kali ini saya bukan untuk menulis masalah ilmu dan amal.
Jumat lalu, ada kejadian yang cukup berkesan bagi saya. Bukan pada bagaimana peristiwanya, namun keseluruhan rangkaian peristiwa dari hari - hari sebelumnya. Paling tidak ada tiga peristiwa singkat yang saling berhubungan dalam waktu kurang dari dua minggu ini.
Peristiwa yang terakhir adalah ketika secara tidak sengaja handphone saya terjatuh dan tenggelam di dalam air. Bukan sekedar air, tapi [maaf] lubang WC yang bersih. Untuk beberapa saat saya sempat tertegun, berpikir apa yang tengah terjadi dan akibatnya. Sempat terlintas untuk "ah, harus beli handphone baru lagi nih".
Tapi kemudian tangan saya langsung bergerak, masuk menyelamatkan salah satu alat komunikasi saya itu, tanpa terpengaruh psikologi bahwa WC adalah tempat yang kotor. Alhasil hp pun berpindah tempat dan langsung saya keringkan dengan tissue. Tak lupa juga mencuci bersih-bersih tangan saya.
Yang menarik bagi saya adalah tindakan yang saya ambil ternyata merupakan amalan peristiwa pertama. Entah mengapa, kurang dari dua minggu ini saya membaca artikel bagaimana menyelamatkan hp ketika kena air. Segera saya buka casing penutup batere dan melepas baterenya. Langkah pertama dari tindakan pertama yang diajarkan artikel itu sudah saya laksanakan. Setelah melepas dan mengeringkan bagian luar, saya berpikir… "masih bisa dipake nggak ya ?" Saya begitu yakin bahwa ini masih bisa dipake. Tapi saya masih mengkhawatirkan, soalnya saya percaya pasti didalam hp masih ada air, lha wong terendam gitu kok.

Selanjutnya saya meneruskan aktifitas saya kembali dan menunggu waktu pulang untuk me-recovery hp saya di rumah.

Sesampai di rumah, dengan kondisi hp yang sama seperti sebelumnya saya mencoba apa efeknya setelah tenggelam. Baterepun dimasukkan dan dihidupkan. Asyiik, ternyata bisa dihidupkan.. LCDnya masih nyala. But … uh, bagian kanan bawah hampir seperlimanya tampak gak ada warnanya. Tapi saya masih sempat mengetikkan satu sms sampai kemudian seluruh area di LCD menjadi berkedip-kedip pudar. Langsung saya melepas batere tanpa mematikan lebih dulu.

Segera terbayang.. jika harus ganti LCD, yang mungkin ongkosnya nggak sebanding jika dibanding dengan beli baru. Akhirnya saya biarkan begitu saja. Kemudian dengan menghidupkan komputer, saya mulai searching gimana caranya untuk membuka casing (dismantle) SE T610 itu. Alhamdulillah, nggak lebih dari 10 menit saya dapatkan petunjuk gimana cara dismantle casing T610.

Yang paling sulit adalah ketika harus membuka penutup antena. Untuk mendismantle casing harus ada obeng/screwdriver khusus. Nah inilah, yang membuat saya heran. Seminggu lalu saya beli satu set obeng kecil berujung segi enam yang khusus untuk buka hp. Dengan mengikuti petunjuk dari internet dan ujung jari sedikit berdarah, akhirnya saya berhasil mambuka seluruh casing hp. Ternyata benar dugaan saya, didalamnya masih ada beberapa tetes air. Pantesan tadi layar LCD menjadi berangsur-angsur redup, ternyata karena air ini. Langsung saya keringkan bagian "FFC wire " yang ada beberapa komponen SMT diatasnya. Setelah semua kering saya biarkan untuk diangin-anginkan selama satu jam.

Tiba saatnya untuk meng-assembly-lagi hp tersebut. Nggak terlalu susah bila dibandingkan dengan saat membukanya. Setelah OK dan batere dipasang.. tombol power pun ditekan. Ihh happynya saya ternyata LCD kembali seperti semula. Sempat ada masalah ketika nomor hp saya panggil .. bunyi rington selama kurang lebih 3 detik jadi kacau .. tapi akhirnya OK.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah, mengapa untuk menyelamatkan hp yang terjatuh di air itu sudah ada beberapa alamat sebelumnya. Diantaranya adalah artikel tentang cara mengatasi hp yang basah/terendam dan obeng yang saya beli seminggu yang lalu.
Alhamdulillah …

Filed under Personal by

Spread the Word!

Permalink Print Comment
Register Login